gay in reality VS romantic scene

Sebelumnya maaf kalo postinganku agak mengganggu pihak2 yang membacanya, ini cuma keluh kesahku aja jadi mohong pengertiannya ya.

Kali ini aku mau cerita tentang kejadian sehari2 aj sih.
Udah beberapa tahun ini aku tinggal di ibukota, dan kita semua tau kalau jakarta itu penduduknya sangat banyak dan sangat beragam. Belum lagi pupulasi cowo2 gay yang banyak banget.
Back to topic deh, ak mau cerita ttg hal kecil yang cukup menggangguku kalau lagi berkeliaran entah dimana di bilangan ibukota jakarta ini.
Mungkin ini akibat kebanyakan baca cerita romantis gay yang ada di internet atau karena kebanyakan nonton film komedi romantis makanya otakku terkadang jadi ga beres gini.
Mungkin kalau di film atau di cerita2 romantis baik dalam bentuk cerpen, novel, atau apapun itu semuanya berjalan dengan mulus, atau sedikit ada konflik mungkin tapi pasti berakhir bahagia. Sebut saja sebuah novel gay indonesia yang cukup terkenal dgn judul ‘Lelaki Terindah’. Disana diceritakan si tokoh utama jatuh cinta pada pandangan pertama, berkenalan, dan keduanya benar2 merasakan hal yang sama sehingga sampai mereka berada di tahap berpacaran berjalan dengan sangat dan mulus.
Terkadang aku sangat iri dengan kondisi demikian. Kenapa? Ya siapa juga yang ga mau kondisi demikian..
Contoh kecilnya ya ketika aku sedang duduk sendirian di busway dan didepanku duduk seorang pria tampan dengan tampilan yang sangat necis. Ya jauh didalam hatiku aku sangat ingin dia juga gay sepertiku, sesekali aku mencuri2 pandang melihatnya. Pengen banget sebenarnya dia tiba2 tersenyum padaku lalu mengajak berkenalan, lalu bertukar nomor hp lalu mulai berkomunikasi secara intens, kemudian menyatakan cinta dan akhirnya hidup bahagia selamanya.
Atau ketika sedang makan sendirian di sebuah foodcourt pusat perbelanjaan, tiba2 seorang pria tampan menghampiri dan bertanya ,”apakah kursi ini kosong? Bolehkan ahku bergabung untuk makan bersamamu?” Dan akupun akan mempersilahkan dia duduk makan bersamaku dan mulai berbincang2 riang dengannya kemudian bertukar kontak dan bla.. Bla.. Bla..
Kalo di film2 komedi romantis memang itu sangat mungkin terjadi, tapi seketika pada saat itu ak tersadar juga kita hidup di dunia nyata. Karena pada kenyataannya di busway aku hanya duduk diam dan sibuk mendengarkan lagu dengan headsetku, begitu pula dia juga tak terpengaruh dan bahkan tidak peduli ada atau tidaknya aku di bus itu. Dan di foodcourt juga, tak mungkin ada orang yang melakukan hal demikian, kalaupun itu terjadi mungkin respon yang terjadi adalah aku menatap dengan tatapan terganggu ke ‘stranger’ yang ingin duduk makan bersamaku, karena siapa yang tau kalau dia ingin berbuat jahat bukan? Hahaha
Bagaimana kalau kamu jadi orang yang pertama yang menyapa pig?
Hell no!! Logikaku terlalu lancar dalam berpikir kalau untuk melakukan hal seperti itu, karena bisa saja dia bukan gay sepertiku, bisa juga dia tak ingin diganggu. Dan aku juga belum ingin membuka identitas ke-gay-an ku ke dunia luar..
Kalau kamu berpikir demikian, berarti orang2 juga kemungkinan besar berpikiran sama denganmu dong pig..
*sigh sepertinya demikian.. (._.)
Hal romantis tersebut kemungkinan terjadinya hanya se-per-sekian-persen. Tau kenapa? Karena kita hidup di dunia nyata. Dan kalau dipikir2 juga kalau aku didukung dengan fisik nan sempurna dan mulus seperti tokoh2 yang memerankan film itu ya mungkin saja, tapi lagi2 kenyataannya aku tak sebaik itu, bahakan mungkin aku itu seperti ‘invisible’..
Ya hal demikian memang sering terpikirkan olehku, kita sering terdistraksi untuk ingin menjalani hidup nan indah seperti yang ada pada cerita2 romantis, but hey! Wake up! Hidup kita g mungkin dan ga bisa disamakan dengan film yang notabene hanya 2 jam. Dan lagi2 didalam hatiku aku ingin mengalami kejadian romantis dan indah seperti di film2.. *sigh
Tujuan aku becerita ttg hal ini kepada kalian mungkin hanya karena alasan aku cuma ingin berbagi saja, kali aja ada salah satu diantara kalian yang berpikiran sama denganku.. Hehe

Salam
Nerdypig

17 thoughts on “gay in reality VS romantic scene

  1. iya
    gw jg kadang berpikiran gtu
    y karna gw jg sering baca cerpen2 gay d internet,film2 gay dyoutube
    bikin galau sendiri klo ketemu cwo cakep djalan

  2. bener bgt tuh…gak ada cerita gay yg seromance itu,apalagi di Indonesia,,pernah sih baca tentang pernikahan sejenis di china,dan untuk mendapat restu dia bersujud sehari semalam di dpn rmh bibinya,,dan berhasil dpt restu bibinya..tp itu cm satu diantara sejuta,,kebanyakan cuma soal sex dan sex…yg paling buat aku geram cowok gay binal di toilet umum mall,yg suka mancing2 di urinoir..oke aku gay tp gak segampang itu,aku hanya ML dgn Bf ku aja,walau setiap BF harus putus,dan sekarang aku udah hampir 2thn ga punya Bf, yg brarti aku udah puasa sex selama itu..hehehei#pengen..hiks hiks

  3. ngiik…tentu aja gw juga ngarep juga kyk gt, tapi tapi rasa rasanya gak bakal kejadian deh..hahaha tapi ngarep boleh donk yak kan ga ada salahnya
    saran gw sih, jalani idup apa adanya ajalah toh kalo emang ditakdirkan ketemu ‘jodoh’ pasti ketemu juga dengan jalan (yg mungkin) tak terduga
    semangaat😀

  4. Aku pun sering berpikiran kya gitu,, ini hidup yg di sutradarai oleh tuhan, kejadian romantis bakalan dapat kok, namhn waktunya bukan sekarang,,

  5. Ada banyak maho yg ingin jd sinderela, terutama mrk yg dibawah usia 30, tenggelam dalam khayalannya shg mengharapkan pangerannya mengurusi semua kebutuhan hidupnya, ahirnya sinderela jadi benalu dan si cowok membuang benalu
    Pesannya gpp jd sinderela, asal sinderela sejati yg emang cantik luar dalam, body aduhai, pintar otaknya dan sepadan dgn pangerannya (kecuali kelas sosialnya aja)
    Angkat jempol buat nerdy, semoga menyadarkan para sinderela gadungan…

  6. kalau di pikir” emang lucu yah.. tpi.. this is REAL.. kita kebanyakan ngayal yg baik”nya aja.. lupa sama kehidupan nyata. apalagi yg gaynya masih tersembunyi (kayak saya), masih belum bisa terbuka, maka peluang mendapatkan BF ya 0.00001%, apalagi mw dapat scene romantic..😀

    • haha siapa sih yang ga mau, cuma ya mau gimana lagi hidup di negara yang masih terlalu konservatif sama hal yang berbau ginian. ujung2nya ya sendiri lagi.. *sigh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s