bukan aku tak cinta, aku hanya…

Saat ini aku tengah dekat dengan beberapa orang yang aku kenal melalui jejaring sosial khusus gay, tapi yang benar2 intensif aku dekat dengan 2 orang. Orang pertama sebut saja J, dan orang kedua sebut saja S.
Aku dan J sudah saling mengenal cukup lama dan sudah beberapa kali bertemu di kosan nya.
Sedangkan dengan S aku belum bertemu sama sekali tetapi sangat intens dalam berhubungan melalui instant messenger.
Tetapi ada beberapa hal yang membuatku ebrpikir dua kali untuk melanjutkan hubungan ini ke tahap yang lebih serius dengan mereka.😦
Aku mulai dengan kisahku bersama J

Pertama kali beberapa bulan yang lalu aku melihat profilnya di sebuah jejaring sosial gay, membaca profilenya, dan memutuskan untuk tidak melakukan apa2. Ternyata esok harinya aku mendapat 3 pesan dari dia, yang pertama permohonan untuk menjadi teman, kedua ia me-rate profileku menjadi favorit, dan ketiga pesan dari dia sendiri memperkenalkan diri dan memberikan kontak BBMnya. Jujur awal membaca pesan tersebut aku sedikit kaget bisa2nya dia tertarik padaku yang jujur kurang menonjol dalam hal fisik. Akupun meng-add pin nya dan komunikasi pun berlanjut sejak saat itu.
aku dan dia sudah beberapa kali bertemu dikosannya di bilangan jakarta selatan, bekerja sebagai seorang graphic designer yang baru saja kembali bekerja dari singapura, dia sangat memenuhi kriteria pria idamanku, cuma ada beberapa hal yang sedikit menggangguku ketika ingin melangkah lebih serius kepadanya, hal tersebut adalah ia hanya antusias menghubungiku ketika dia butuh saja dan ketika aku bertanya ia hanya membalasnya sekedar saja. Mungkin aku yang terlalu needy atau dianya yang emang begitu tapi.. Yah,, cukup rumit menurutku.. Seakan2 aku hanya sebagai ‘pemuas’nya saja walaupund di satu sisi aku juga menikmatinya. Disisi lain aku dan dia juga sama2 anak bungsu yang mungkin sedikit banyak membuat kami sama2 egois dalam beberapa hal, tapi pihak yang mengalah hampir selalu justru aku yang notabene lebih muda dari segi usia dari dia. Tapi aku sangat menyayanginya. Setiap kali bertemu dengannya jantungku selalu berdetak tak beraturan..

Yang kedua adalah kisahku dengan S. Aku pertama kali mengenalnya ketika dia mengirimkan pesan kepadaku melalui jejaring sosial khusus gay juga. Ia memperkenalkan diri dan memberikan nomor hpny berharap aku membalas pesannya. S adalah seorang bankir yang baru menjajaki karirnya. Dia keturunan indo-jepang. Aku dan dia cukup nyambung dalam beberapa hal sehingga kadang aku dan dia bisa chat sampi berjam2. Ada beberapa hal yang membuatku menolak untuk menemuinya meskipun beratus2 kali ia mengajak untuk bertemu. Yang pertama karena dia tinggal di lokasi yang cukup sulit dijangkau oleh angkutan umum, kedua ia tinggal dan tumbuh besar di keluarga yang cukup berlebihan dari segi materi, ketiga ia tinggal bersama keluarga, dan yang terakhir sepertinya ia memiliki kepribadian yang sedikit feminim dimana aku mengetahuinya setelah melihat kehidupannya di social network.
Yah aku memang keterlaluan karena menggantung S sedemikian lama, tapi menurutku itulah yang terbaik.

Diatas semuanya alasan aku tidak ingin melanjutkan hubungan serius dengan mereka adalah karena sebentar lagi aku akan lulus dari kampus dimana aku menuntut ilmu sekarang. Bagaimana tidak, segera setelah lulus aku akan kembali ke kampung halaman, dan bekerja di kota diluar jakarta. Kita sendiri tahu bahwa di hubgungan percintaan sesama jenis LDR itu cukup sulit dilakukan, bukan hanya di hubungan sesama jenis, di hubungan normal juga hal tersebut cukup sulit dilakukan.
Belum lagi alasan lainnya adalah karena aku dan dia bertemu di social network khusu gay. Seseorang pernah berkata padaku:
“Kalo lo mau hubungan yang serius sesama jenis, cari di dunia nyata, jangan pernah mau pacaran dengan orang yang kita temui di social network.”
Dan setelah dipikir2 ada benarnya juga. Karena orang yang bertemu di socnet akan cenderung kurang menghargai hubungan, kalau putus dengan si A ya tinggal cari penggantinya di socnet. Ironis sekali
Dan alasan terakhirnya adalah aku tidak ingin hatiku tersakiti lagi karena mau tidak mau aku akan berpisah dengannya dalam waktu dekat ini. Setidaknya jika aku meninggalkan jakarta dalam waktu dekat didepan aku tidak akan meninggalkan luka di hatiku maupun hati siapapun.
Menurut kalian bagaimana? Apakah keputusanku sudah cukup tepat?

Salam
Nerdypig

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s