What are we? What is our purpose?

Hi, kali ini aku tidak akan membahas mengenai dunia gay atau romace. Karena aku merasa topik ini sudah terlalu umum untuk dibicarakan, dan aku terlalu kanak2 jika masih kerap membahas topik ini terus menerus.

Kali ini aku sudah mengubah status dari mahasiswa, pegawai internship, pengangguran dan akhirnya sekarang menjadi seorang employee di sebuah perkantoran yang bergerak di bidang finance.
Kehidupan yang sudah kujalani dalam kurun kurangblebih 2 bulan ini sedikit banyak mulai dari pola pikir maupun pola hidup. Katakanlah aku bekerja 8-5, berarti kurang lebih kuhabiskan di lingkungan kantor belum termasuk waktu yang kuhabiskan di perjalanan pulang dan pergi.

Saat ini aku sedang menikmati menit2 terakhir sebelum long weekend berakhir dan menyambut cerita horor setiap pekerja; ‘monday’. Ahaha
Cukup ngelanturnya.

Now back to topic.

Sepanjang akhir minggu pa jang ini aku menghabiskan hampir seluruh waktuku menikmati pelukan dari kasur. Yang kulakukan di kamar hanyalah berputar dari menonton film di laptop, membaca social media di smartphone, mendengar musik, main gitar, tidur, dan makan. Tidak ada yang menarik.
Namun satu hal yang menjadi garis merah dalam topik yang kubuka adalah aku mulai memikirkan 1 hal. Tujuan.
Secara egois aku mulai memikirkan tujuanku pribadi. Hmmm.. wealth, health, happyness.. ya standar namun cukup luas. Karena kemakmuran itu bisa mencakup banyak hal, kesehatan bisa mencakup fisik maupun pikiran, dan kebahagiaan itu menurutku juga relatif. Kufokuskan pikiran hingga mulai memikirkan langkah kedepan, target 5 tahun mendatang, 10 tahun, 15 tahun hingga aku bosan sendiri.
Akupun melanjutkan pemikiranku dengan lebih meluas. Apakah tujuan dari manusia sendiri?

Aku bukanlah Tuhan yang memiliki kehendak dan mengetahui segalanya. Aku hanya manusia yang memiliki keterbatasan. Sedikit terpancing memang untuk memikirkan mengenai tujuam manusia dalam bumi ini. Hal itu dipicu ketika aku menonton sebuah film fiksi dimana selalu ada tokoh antagonis yang menjadi sumber dari segala konflik.
Pimiranku mulai menjalar ke pemberitaan yang mulai ricuh saat ini di negara kita; apa lagi kalau bukan konflik kepentingan, politik, agama, politisasi agama. Apakah yang sebenarnya mereka inginkan?

Aku memang bukanlah orang yang taat dalam agama. Sudah setengah tahun ini aku tidak pergi beribadah ke gereja, mungkin 2-3 kali saja. Dalam hal ini aku memang cukup jahat karena aku mempertanyakan eksistensi dari Tuhan dalam konsep agama. Bukannya tidak mengakui namun jujur aku sedikit jengah dengan begitu banyaknya masalah yang timbul hanya karena menyinggung satu kata ini.
Dalam sekejap semua orang akan menjadi ulama atau pendeta yang merasa tahu segalanya dan merasa berhak untuk menghakimi orang atas nama kepercayaan yang mereka anut.
Sebagai seorang gay yang kondisinya tidak akan mungkin diterima di kubu manapun (dalam konsep ini agama), aku memilih sebagai kaum pasif yang memperhatikan kedua belah pihak. Sebut saja aku 80% nonblok.  Memicu Aku mulai mempertanyakan banyak hal. Bukankah pada hakikatnya agama diciptakan untuk menghindari kekacauan? Namun mengapa hal ini justru menjadi sumber kekacauan itu sendiri?
Bagaimana bisa seorang pemuka agama yang cukup terkenal bisa dengan gampangnya mengumumkan haram atau tidaknya melakukan sesuatu? Hmmm sebaiknya topik bagian ini akan kustop sampai disini karena aku tidak mau menimbulkan konflik dan ditambah dengan kondisiku sebagai seorang gay, tak bisa kubayangkan ratusan ayat2 kitab suci akan dilemparkan padaku agar bisa ‘sembuh’. Which is impossible. Lol

Aku memikirkan hal lain. Tujuan manusia.
Apakah tujuan kita hidup?
Apa tujuan dari eksistensi kita?

Dalam kitab suci, menurut yang kuanut dikatakan bahwa tujuan manusia adalah memenuhi bumi, menyebarkan kasih, dll. CMIIW.
Namun apakah itu saja?

Memenuhi bumi?
Bahkan ketika bumi belum penuh, kita sudah menciptakan kiamat kita sendiri.
Global warming, kepunahan binatang, kerusakan lingkungan, perbedaan kelas sosial, dan perang. Bisakah kalian bayangkan  jika sampai bumi dipenuhi manusia? Hmm jujur aku sendiri tak bisa membayangkan kekacauan apa lagi yg akan muncul.

Aku kembali berpikir, mengapa?
Mengapa aku harus ada?
Mengapa ada manusia?
Mengapa?
Jika tujuannya adalah memenuhi bumi, oh God, bagaimana bisa bumi malang ini bertahan jika diisi oleh manusia?
Manusia yang menganggap dirinya lebih dari segalanya, namun tak lebih dari binatang yang memiliki ego dan drama.
Konsep tujuan manusia dalam kitab suci pada awalnya tidak dapat kuterima. Begitu banyak konflik yang berputar di kepalaku. Terlebih lagi aku mulai memikirkan apa yang terjadi setelah manusia mati, konsep surga dan neraka, konsep science, konsep budaya. Kepalaku serasa ingin pecah.
Kuputuskan untuk berhenti memikirkan tujuan manusia yang sebenarnya. Tapi tidak bisa.

Sekelebat aku memikirkan kata ‘keseimbangan’ dan ‘tidak adanya kerusakan’.
Meski kita tidak bisa mengatakan itu adalah tujuan manusia, tapi aku hanya ingin berbagi agar kita bisa hidup damai.
Jika apa yang kau lakukan hanyalah untuk kekayaan atau kesenangan pribadi, merugikan manusia lain, merugikan keseimbangan alam.. maka janganlah lakukan.

Mengapa kita tidak bisa menjadi manusia saja?
Manusia yang membutuhkan orang lain sebagai ciri makhluk sosial.
Manusia yang menjaga lingkungannya bukan menggerus segalanya dengan gila2an hanya demi lembaran kertas yang disebut uang untuk memperkaya dirinya. Bukankah uang itu sendiri terbuay dari olahan kayu? Apakah kalian sendiri tidak kasihan melihat bumi ini dieksploitasi dengan begitu jahatnya?

Ya, kelihatannya aku sudah seperti menggurui saja. Haha
Aku bukan menggurui, hanya ingin mencurahkan pemikiranku dengan idealisme yang masih kental.

Aku tahu bahea aku sendiri jg belum melakukan apapun.
Aku juga tau, aku yang gay ini akan dijudge dengan orientasiku ditambah dengan pemikiran seperti ini.
Namun pada akhirnya yang kuharapkan adalah kehidupan yang tenang dan damai.

Karena manusia belum seutuhnya menjadi manusia.

Salam,
Nerdypig

****jika kalian tertarik dengan topik ini silahkan share email kalian di comment (email kalian tidak akan ku publish), aku butuh teman untuk membahas topik ini secara pribadi by email, dan aku juga ingin tau pendapat kalian mengenai tujuan manusia. Terimakasih sebelumnya.🙂 ****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s