Mengapa?

Gay bukanlah penyakit
Gay bukanlah aib
Gay bukan lah pilihan
Gay itu jati diri

Sejak siang tadi pikiranku tidak bisa lepas dari kalimat2 itu.
Itu adalah bentuk protes yang hanya bisa diteriakkan oleh hatiku terdalam namun otakku memproses semuanya menjadi gerakan kecil otot bibirku menjadi senyum kecil.

Ini menjadi teriakan tanpa henti di kepalaku. Jujur aku begitu tersinggung setiap kali dalam sebuah pembicaraan dengan beberapa rekanku, dimana mereka selalu mempertentangkan hal ini malah lebih ke arah melecehkan. Tak jarang aku ingin mendorong sedikit kepala mereka dengan ujung jariku setiap kali mereka mengeluarkan pandangan sebelah mata mereka mengenai orientasi seksual ini.
Sebagai bentuk penyamaran diri aku sering hanya menanggapi hal itu dengan senyum atau bahkan ikut berpura2 mendukung pendapat mereka meski jauh di lubuk hatiku terdalam aku merasa terhina.

“Dia maho cuy.. serem banget, jauh2 deh.”

“Harusnya kan mereka sadar, kodratnya laki2 itu ya sama perempuan. Masa jeruk makan jeruk.”

“Ga takut masuk neraka kali mereka. Itu kan dosa. Belum tau sodom dan gomorah kayanya dia.”

Perkataan seperti itu memang kerap kali kudengar dari orang2. Entah mengapa mereka menganggap gay itu penyakit yang menular, menyalahi kodrat manusia, bawa2 agama, dan bahkan menggeneralisasi bahwa gay itu udah pasti banci dan suka gonta ganti pasangan.

Teman, aku tidak bisa menyalahkan kalian berpendapat demikian. Tapi sebagai individu yang sudah mengecap pendidikan tinggi sepertinya sudah tidak selayaknya lagi pemikiran seperti itu naik ke permukaan.

Ya, jika kita berkiblat pada agama maka pembahasan ini tidak akan ada titik temu sama sekali. Namun aku ingin sekali mengajak kalian mengubah pola pikir jahat mengenai orang2 seperti kami. Jika bisa memilih maka kami juga tidak ingin dilahirkan seperti ini.
Jika kalian merasa jijik, mengapa? Sama seperti hubungan hetero, kaminjuga memiliki tipe pria idaman. Bukan berarti kami akan dengan penuh nafsu akan menggoda semua pria. Sama halnya dengan bergonta ganti pasangan. Di hubungan hetero juga hal ini cukup sering didengar tapi lagi2 mengapa hanya di titik beratkan pada kaum gay? Dan satu lagi, gay itu tidak menular. Gay bukan penyakit.😦

Aku tidak habis pikir akan pemikiran orang2. Kami juga memiliki perasaan. Kami juga ingin bisa bebas bergandengan tangan dengan kekasih kami di tempat umum tanpa beban. Gay itu tidak seburuk yang kalian pikirkan.
Mengapa orang2 selalu mengangkat isu agama atau kodrat menjadi tolak ukur utama? Jika kalian menyinggung masalah dosa, apakah kalian sendiri tanpa dosa sehingga bisa menghakimi secara sepihak?
Mengapa kalian menyingkir? Sejahatnya pendapatku, akunjuga belum tentu mau dengan orang yang menentang itu.

Mengapa kita tidak memandang hal ini dari sudut pandang sesama manusia?
Apakah kalian mau dipaksa melakukan hal yang sama sekali tidak kalian sukai?
Apakah kalian mau jika pada akhirnya menikah dengan lawan jenis tapi kalian sendirin hanya menambah daftar orang yang sudah kalian bohongi?

Jika kalian belum pernah menjalani kehidupan seperti yang kami jalani, mengapa kalian bisa dengan mudahnya menyuruh kmi berubah?
Guys, ini bukan masalah pilihan. Ini masalah jati diri.
Aku begitu kecewa mendengar betapa banyaknua diskriminasi dan omongan orang yang sok tahu mengenai kondisi ini.
Mengapa kalian begitu jahat?😦

2 thoughts on “Mengapa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s